Apakah Ada yang Tahu, Kenapa Menteri Kemaritiman yang Harusnya Mengurusi Laut, Sewaktu Kasus Kok Ahok Ikutan Nimbrung?

(Ambiguistis) - Sidang ke delapan kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki T Purnama ( Ahok) menyeret nama Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kuasa hukum Ahok mengaku punya bukti percakapan SBY dan Ketua MUI Ma'ruf Amin yang saat itu menjadi saksi di sidang tentang adanya intervensi keluarnya fatwa penistaan agama kepada Ahok.


Dalam sidang itu, Ahok dan kuasa hukum mencecar KH Ma'ruf Amin hingga tujuh jam. Bahkan, Kubu Ahok mengancam akan membawa ke jalur hukum jika Ma'ruf yang berusia 70 tahun itu jika memberikan keterangan palsu membantah tentang adanya komunikasi dengan SBY jelang Agus-Sylvi sowan ke PBNU.

"Jadi jelas tanggal 7 Oktober saudara saksi, saya berterimakasih ngotot bahwa saudara saksi tidak berbohong, tapi kalau berbohong kami akan proses secara hukum saudara saksi, untuk membuktikan bahwa kami memiliki bukti," tegas Ahok di sidang pada 31 Januari lalu.

Ahok juga menyebut Ma'ruf tak pantas jadi saksi karena dinilai tidak netral. "Percayalah, kalau Anda menzolimi saya, bukan hanya berurusan dengan saya, tapi saudara berurusan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Dan saya akan buktikan mereka akan dipermalukan di kemudian hari," kata Ahok saat itu.

Momen tersebut rupanya mengundang reaksi keras berbagai kalangan. Bukan tanpa alasan, selain orangtua, Ma'ruf Amin merupakan sesepuh di PBNU yang memegang jabatan Rais Aam PBNU. Bahkan karena ucapan Ahok itu, sejumlah tokoh NU siap turun membela Ma'ruf.

Kekhawatiran kondisi Jakarta semakin memanas, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan pun turun gunung. Luhut, bersama Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana menemui langsung Ma'ruf Amin di kediamannya di Koja, Jakarta Utara, Rabu (1/2) lalu. Mereka sepakat, tak ingin membuat kondisi Jakarta semakin panas pasca apa yang terjadi di sidang Ahok.

Rupanya, kehadiran Luhut turun gunung di tengah kekisruhan sidang Ahok menuai tanda tanya. Posisi Luhut sebagai Kemenko Kemaritiman dipertanyakan. Bahkan, kehadiran Luhut menemui Ma'ruf dinilai campur tangan pemerintah membela Ahok di Pilgub DKI 2017.

"Saya ingin tanya, Pak Luhut datang ke kediaman Kiai Ma'ruf atas perintah Presiden Jokowi atau Ahok? Datang ke rumah Kiai Ma'ruf bawa Kapolda, bawa Pangdam, publik kan melihatnya Pak Luhut datang untuk menyelesaikan masalah Ahok," kata Wasekjen Gerindra Andre Rosiade dalam pesan singkat, Kamis (2/2).

Andre mengatakan, jika kedatangan Luhut dalam posisi sebagai anak buah Presiden Jokowi, maka sangat jelas jika pemerintah tidak netral terkait kasus Ahok. Sementara jika datang dalam posisinya sebagai anak buah Ahok, sudah semestinya Presiden menegurnya.

"Pak Luhut diperintah Presiden atau anak buah Ahok? Kalau sebagai anak buah Ahok, maka Pak Luhut harus ditegur, kalau perlu dipecat," jelas Andre.

Apabila orang sekelas mantan Presiden, Ketua Umum Partai Demokrat hingga ulama kharismatik sekelas KH Ma'ruf Amin bisa disadap, Andre khawatir politisi hingga rakyat biasa akan dengan mudah disadap.

"Ini kritik saya, karena saya sayang kepada negara ini, sayang kepada Presiden, karena terlalu besar costnya apabila Presiden terus membela Ahok di atas kepentingan negara yang lebih besar. Ini kritik saya untuk Presiden, bukan karena saya ingin makar," sambung Andre.

Luhut sendiri enggak mengungkap detail isi pertemuan dengan Ma'ruf. Dia hanya mengatakan, pertemuan itu terjadi karena hubungan teman baik. Dalam pertemuan tersebut, Luhut dan Ma'ruf Amin sepakat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Pak Kiai Ma'ruf dan saya sepakat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta perdamaian di Indonesia ini. Saya datang bukan sebagai Menteri tapi sebagai teman baik, teman yang sudah kenal lama. Hubungan saya dengan Nahdlatul Ulama kan sangat baik, beliau juga Raais Aam NU. Kebetulan pada saat itu hadir juga Kapolda dan Pangdam," ujar Luhut di sela-sela kunjungan kerja ke pulau Nipa, Kepulauan Riau, Kamis (2/2).

Luhut menegaskan, semua isi pertemuan sudah dipaparkan. Yang terpenting, kata dia, Ma'ruf Amin sudah memaafkan Ahok.

"Kiai Ma'ruf, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya kepada media, mengatakan dia memaafkan Ahok. Itu saja," kata Luhut. (Ambi/Merdeka)