Kalian Mencela Ikhwanul Muslimin, Padahal Kalian Belum Pernah Membela Palestina Sebagaimana Mereka

(Ambiguistis) - Cita-cita besar IM telah dicetuskan sejak awal pendiriannya seperti yang telah dibahas di atas. Yaitu mengembalikan khilafah Islamiyah. Hasan Al-Banna selaku pioner IM melihat bahwa keruntuhan Khilafah Islamiyah di Turki adalah pintu masuk bagi imperialisme negara Barat pada masyarakat Islam.


Sebenarnya sebelum jatuhnya Utsmaniyah, tanda-tanda kebangkitan Islam sudah mulai lahir sejak pertengahan abad ke-18. Sebagian tokoh kebangkitan Islam tersebut berusaha memperbarui dan melakukan ishlah (reformasi) kekuasaan Utsmani. Mereka bekerjasama dengan unsur-unsur yang baik dalam negara tersebut dan bekerja bersama visi Sultan Abdul Hamid.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Daulah Utsmaniyah jatuh dan fase kolonialisme mulai mengambil alih. Sejak itu, khilafah pun hilang, tepatnya pada 93 tahun yang lalu. Maka dari itu, Al-Banna dengan IM-nya berkonsentrasi pada perlawanan imperialisme ini. Imperialisme Barat merupakan sebuah agenda untuk menghancurkan Islam sebagai agama, kultur dan identitas masyarakat di Afrika dan Timur Tengah.

Kemudian, apa hubungannya dengan konflik Israel-Palestina? Nah, inilah alasan mengapa IM berperan aktif dalam konflik yang berkepanjangan ini. Palestina adalah wilayah okupasi Inggris. Inggris berperan aktif dalam pembentukan negara Zionis-Yahudi di Palestina. Kerangka pemikiran ini kemudian membentuk suatu ideologi bahwa pendirian negara Israel adalah kesalahan dan pelanggaran, dan IM harus ada di barisan terdepan untuk melawan pengingkaran ini.

IM melihat bahwa Israel hanya sebagai alat negara Barat untuk menghancurkan Islam. Prinsip saling menguntungkan dan kerja sama antara musuh Islam ini sudah tertera dalam ayat Al-Quran bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha dengan umat Islam sampai mereka mengikuti millahnya.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka…” (QS.Al-Baaqarah :120).

Maka dari itu, dalam konflik ini sangat terlihat bahwa kedua umat ini bersimbiosis untuk menghancurkan Islam. Yahudi diuntungkan dengan ambisi mereka untuk mendapatkan tanah Palestina dan tanah-tanah yang mereka klaim sebagai imperium Asy-Syriria sebagaimana tercantum dalam Taurat. Sedangkan kaum Nasrani, yaitu Barat diuntungkan dengan tercerai berainya umat Islam sehingga kedigdayaan tetap di tangan mereka baik dalam hal militer, penguasaan wilayah dan perekonomian.

Sekali lagi, karena itulah IM berperan aktif dalam permasalahan Palestina ini. Ikhwanul Muslimin pertama kali mendirikan perwakilannya di Jerusalem pada 1935. Hasan Al-Banna langsung mengirimkan saudara laki-lakinya Abd Al Rahman Al Banna untuk membangun jaringan dan sel-sel Ikhwanul Muslimin di Palestina pada tahun itu. Dari perjalanan Abd Al Rahman Al Banna ini, Hassan Al-Banna mampu mendirikan perwakilan organisasinya di Jerusalem dan menyebar hingga ke kota-kota penting di Palestina. Keanggotaan IM di Palestina mencapai 12.000 hingga 20000 orang. (Ambi/Kiblat)