Sering Dengar Musik, Apakah Mau Matinya Dinyanyikan Musik Bukan Al Quran? - Ustadz Oemar Mita

Tags

(Ambiguistis) - Terlalu seringnya berbuat dosa, akan membuat diri kita nyaman. Nyaman dalam makna sudah tidak lagi menganggap itu perbuatan dosa. Misalkan saja ada seorang pencuri yang terdesak ekonomi. Pada awalnya memang rasa sesal itu muncul dan ia berharap itu pertama dan terakhir. Namun ketika ia merasakan kondisi terdesak lagi, bisikan setan akan muncul untuk mengulangi. Ketika ia akhirnya terjerumus mengulangi lagi, maka rasa sesal itu akan terus terkikis.

Sama halnya ketika ada seorang yang menyukai musik. Ia setiap waktu lebih sering menyanyikan atau mendengarkan musik. Lantas ketika ia membaca Al Quran, maka kondisi hatinya akan lebih sulit untuk menghayati. Lain halnya ketika ia mendengarkan musik sedih, ia lebih mudah menangis. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan jika musik dijadikan asupan tiap hari di samping Al Quran.

Jika ditanyakan kepada orang yang menyukai musik, apakah ia ketika meninggal mau dinyanyikan musik? Tentu jawabannya tidak mau. Tapi faktanya masih saja ia lebih banyak menikmati musik daripada Al Quran.


EmoticonEmoticon