Serius Wajib Dibaca, Begini Kewajiban Umat Islam Kalau Sudah Syahadat

Tags

(Ambiguistis) - Berhukum dengan hukum Allah termasuk bagian dari bentuk kemurnian tauhid kepada Allah. yaitu meyakini ke-esaan Allah tentang kekuasaan-Nya dan kesempurnaan hak-Nya dalam mengatur alam ini. Oleh sebab itu, Allah menyebut tentang mereka yang diikuti bukan berdasarkan hukum Allah sebagai arbab (tuhan-tuhan) bagi para pengikutnya. Allah Ta’ala berfirman:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهًا وَاحِدًا لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan para pendeta dan ahli ibadah mereka sebagai arbab (tuhan tandingan) selain Allah, dan mereka juga mengambil Al-Masih Ibnu Maryam (sebagai rabb selain Allah). Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Ilah yang Esa. Tak ada Ilah yang berhak diibadahi selain-Nya. Maha Suci Allah dari kesyirikan mereka.” (QS. At-Taubah: 31). (Lihat Al-Majmu’ al-Tsamin Fatawa Syaikh Al-Utsaimin, 1/33)


Imam Izzuddin bin Abdi Salam berkata, “Allah semata yang berhak ditaati adalah dikarenakan Allah sajalah yang melimpahkan nikmat, yaitu dengan menciptakan, menghidupkan, memberi rizqi, memperbaiki dien dan dunia. Tidak ada suatu kebaikan pun kecuali Allah saja yang mampu menghadirkannya dan tidak ada suatu keburukan pun kecuali Allah saja yang mampu menyingkirkannya…demikian juga tidak ada hak membuat hukum kecuali hak Allah semata.” (Qawaidul Ahkam, 2/134-135)

Selain itu, Tauhid yang dimaksudkan di sini juga adalah tauhid ittiba’, Yaitu merealisasikan mutaba’ah (mengikuti ajaran) Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, definisi tauhid ittiba’ adalah menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemutus perkara, menerima keputusan beliau dengan sepenuh hati, tunduk, dan patuh menjalankan keputusan beliau. (Lihat; Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, 1/228)

Karena itu, Allah Ta’ala berfirman;

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim (pemberi keputusan) dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ (4): 65)

Menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir berkata, “Allah Ta’ala bersumpah dengan Dzat-Nya Yang Maha Mulia dan Maha Suci bahwasanya seseorang tidak beriman sampai ia menjadikan Rasul sebagai hakim dalam seluruh urusan. Apa yang diputuskan Rasul itulah yang haq yang wajib dikuti secara lahir dan batin.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/211)

Berhukum dengan hukum Allah merupakan bentuk realisasi pengakuan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi dan rasul-Nya. Karena itu imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata,

“Adapun ridha dengan nabi-Nya sebagai Rasul mencakup sikap tunduk sepenuhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan menyerahkan diri secara mutlak kepada Rasululllah sallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga ia tidak menerima petunjuk kecuali yang bersumber ajaran Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, tidak berhukum (meminta putusan perkara) kecuali kepada beliau sallallahu ‘alaihi wasallam, tidak menjadikan selain beliau sebagai hakim (pemberi keputusan atas segala persoalan), tidak ridha dengan hukum selain hukum beliau,..” (Madariju As-Salikin, 2/172-173)

Bahkan berhukum dengan hukum Allah merupakan makna syahadat ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan (rasul) Allah SWT’ itu sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahab:

“Makna syahadat ‘Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan (rasul) Allah SWT’ adalah mentaati perintah beliau SAW, membenarkan berita wahyu yang beliau sampaikan, menjauhi apa yang beliau larang, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang beliau syariatkan.”(Majmu’atu Muallafat al-syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, 1/190 dan lihat pula Taisiru Al-Aziz Al-Hamid Syarh Kitab At-Tauhid, hal. 554-555)

Oleh karena ini pula syaikh Muhammad bin Ibrahim menegaskan bahwa memberlakukan syariat Allah SWT sebagai satu-satunya undang-undang adalah makna dari syahadat ‘aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah’. Beliau berkata:

“Menjadikan Rasul sebagai satu-satunya hakim (pemutus perkara) tanpa selain beliau adalah ‘saudara kandung’ dari beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Karena kandungan dua kalimat syahadat adalah hendaklah Allah semata yang diibadahi tanpa sekutu dan hendaklah Rasulullah semata yang diikuti dan hukum beliau saja yang dibelakukan. Tidaklah pedang-pedang jihad dihunus kecuali karena hal ini dan untuk menegakkan hal ini, baik dengan melaksanakan perintah beliau SAW, meninggalkan larangan beliau SAW, maupun menjadikan beliau sebagai hakim (pemberi keputusan) saat terjadi perselisihan.” (Risalah Tahkimul Qawanin, dalam kompilasi Fatawa syaikh Muhammad bin Ibrahim, 12/251)


EmoticonEmoticon