Megawati Tidak Sambut Raja Salman di DPR, Coba Pidato Soal Ideologi Tertutup Disampaikan Ke Raja Salman, Beranikah?

(Ambiguistis) - Mantan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tak menghadiri undangan DPR terikait kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz. Namun, Megawati ternyata muncul di Istana Negara saat Raja Salman datang ke Kantor Presiden tersebut.


''Ibu Megawati dan Ibu Puan mewakili keluarga Bung Karno bertemu Raja Salman di Istana Negara. Berhubung sudah diagendakan pertemuan di istana, maka tidak perlu hadir di DPR,'' kata Politikus PDIP Masinton Pasaribu, saat dihubungi, Kamis (2/3).

Menurut anggota Komisi III DPR tersebut, kedatangan Raja Salman ke DPR lebih pada simbolik dan menapaktilas kunjungan Raja Arab Saudi sebelumnya yang pernah pidato di DPR. Ada beberapa poin penting yang dinilainya menjadi catatan khusus pemerintah Indonesia.

Pertama, kata dia, ajakan dari Raja Salman untuk menghormati kedaulatan masing-masing negara. Kedua, bersatu menghadapi tantangan fenomena terorisme. Ketiga, menciptakan perdamaian dunia. ''Kunjungan Raja Salman ke Indonesia semakin meneguhkan hubungan persaudaraan antar Bangsa dan Negara, khususnya Negara Indonesia dengan Kerajaan Arab Saudi,'' ucap dia. (Sumber: Republika)

Ingat kembali isi pidato Mantan Presiden RI Megawati

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri persoalkan orang yang beragama tetapi menanggalkan ke-Indonesiaannya. Ia menyebut, kalau mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab.

Hal ini disampaikan Megawati dalam sambutannya pada peringatan HUT ke-44 PDIP di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Selasa (10/1). Mengutip pernyataan Sukarno, Megawati mengatakan, "Kalau kamu mau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau kamu mau jadi orang Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau kamu mau jadi orang Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini."

Megawati menyebut tentang pihak-pihak yang dianggapnya antikeberagaman. Mereka disebut Megawati sebagai penganut ideologi tertutup yang memicu isu konflik bernuansa suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Mereka juga, kata dia, bertentangan dengan Pancasila.

“Mereka memaksakan kehendaknya sendiri; tidak ada dialog, apalagi demokrasi. Apa yang mereka lakukan, hanyalah kepatuhan yang lahir dari watak kekuasaan totaliter, dan dijalankan dengan cara-cara totaliter pula. Bagi mereka, teror dan propaganda adalah jalan kunci tercapainya kekuasaan,” kata Megawati.

Syarat mutlak hidupnya ideologi tertutup, menurut Megawati, adalah lahirnya aturan-aturan hingga dilarangnya pemikiran kritis. Mereka menghendaki keseragaman dalam berpikir dan bertindak dengan memaksakan kehendaknya. Akibatnya, pemahaman terhadap agama dan keyakinan sebagai bentuk kesosialan pun dihancurkan, bahkan dimusnahkan.

Selain itu, demokrasi dan keberagaman dalam ideologi tertutup tidak ditolelir karena kepatuhan total masyarakat menjadi tujuan. Tidak hanya itu, kata dia, mereka benar-benar antikebinekaan. Maka tidak heran apabila muncul berbagai persoalan SARA akhir-akhir ini.

Menurut presiden Republik Indonesia kelima itu, para pemimpin yang menganut ideologi tertutup mempromosikan diri mereka sebagai self para peramal masa depan. Megawati menambahkan, para penganut ideologi tertutup kerap meramal kehidupan setelah dunia fana. “Padahal mereka sendiri tentu belum pernah melihatnya," ujarnya. (Sumber: Republika)