Derajat Penghuni Surga - Ustadz Khalid Basalamah

Tags

(Ambiguistis) - Ibnu Jarir menyebutkan dari Hisyam bin Hassan dari Jablah bin Athiyyah dari Ibnu Mahiriz mengenai ayat,

“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di jalan Allah di atas orang-orang yang tidak berjihad di jalan-Nya dengan pahala yang banyak dan banyak tingkatan dari-Nya.”

Beliau mengatakan, “Tingkatan yang dimaksud pada ayat ini adalah tujuh puluh tingkatan dan jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah sejauh lari kuda pacu selama tujuh puluh tahun.”

Ibnul Mubarak berkata bahwa telah berkata kepada kami Salamah bin Nabith dari Dhahhak tentang firman Allah ta’alaa,

“Bagi mereka derajat yang banyak dari Tuhan mereka.”

Beliau berkata, “Sebagian di antara mereka lebih mulia daripada sebagian yang lain. Orang yang diberi kelebihan bisa melihat kelebihannya dan orang yang berada di bawahnya tidak melihat ada orang lain yang lebih mulia daripada dirinya.”

Adapun ayat yang pertama adalah antara orang yang tidak ikut berjihad karena udzur syar’i dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Sedang pada ayat kedua antara orang yang tidak ikut berjihad tanpa udzur syar’i dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan hadits Malik dari Shafwan bin Salim dari Atha’ bin Yasar dari Abu Sa’id al-Khudri Radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya para penghuni surga pasti melihat para penghuni ghuraf (bangunan tinggi di surga) dari atas mereka sebagaimana mereka melihat bintang yang berkilauan dan jauh di ufuk timur atau barat, lantaran perbedaan tingkatan mereka.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, itu adalah tingkatan bagi para nabi yang tidak dapat dicapai orang-orang selain mereka?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Benar, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sesungguhnya tingkatan tersebut juga bisa dicapai oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.”

Perumpamaan bintang yang jauh yang hendak terbenam dan bukannya dengan bintang yang berada di atas kepala mengandung dua hikmah besar. Pertama, menunjukkan betapa jauhnya bintang tersebut dari penglihatan mata manusia. Kedua, bahwa surga itu bertingkat-tingkat dan sebagian tingkatan lebih tinggi daripada tingkatan lain. Walau begitu, tingkatan yang lebih tinggi tidak membanggakan dirinya terhadap tingkatan yang lebih rendah. Seperti halnya perkebunan yang memanjang dari puncak gunung ke bagian bawah gunung. Wallahu a’lam.

Dalam Musnad disebutkan hadits dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dikatakan kepada ahli al-Qur’an jika telah masuk ke dalam surga, ‘Bacalah dan naiklah!’ kemudian ia membaca al-Qur’an. Setiap kali ia membaca satu ayat, ia naik satu tingkatan hingga ia membaca akhir ayat yang dihafalnya.” (Riwayat Ahmad Ibnu Majah).

Hadits ini secara jelas mengatakan bahwa tingkatan surga lebih dari seratus tingkatan. Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi para Mujahidin di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Maka jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Karena surga Firdaus adalah surga yang paling baik dan paling tinggi. Di atasnya terdapat Arsy ar-Rahmaan dari situ pula sungai-sungai surga mengalir.” (Riwayat Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad).

Dari Atha’ bin Ubadah bin Shamit dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu yang berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Di dalam surga terdapat seratus tingkatan. Antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah (jarak perjalanan) seratus tahun.” (Riwayat Tirmidzi, dan ia berkata hadits tersebut hasan gharib).

Tidak ada kontradiksi mengenai penafsiran jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan yang lain, baik itu seratus atau lima ratus tahun, karena kecepatan dan kelambanan perjalanan setiap orang berbeda, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hal yang demikian untuk mendekatkan pada pemahaman. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Zaid bin Hibban yang berkata bahwa telah berkata kepada kami Abdurrahman bin Syuraih yang berkata bahwa telah berkata kepadaku Abu Hani’ at-Tajibi yang berkata bahwa saya pernah mendengar Abu Ali al-Janbi yang berkata bahwa saya pernah mendengr Abu Sa’id al-Khudri Radliyallahu ‘anhu berkata bahwa saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seratus tingkatan surga dan jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah seperti jarak antara langit dan bumi atau sesudah antara langit dan bumi.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, untuk siapa itu?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Untuk para pejuang di jalan Allah.”

Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, hadits dari Amr bin Ash Radliyallahu anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian mendengar muadzin beradzan, maka ucapkan seperti yang diucapkan muadzin kemudian bacalah shalawat untukku. Karena sesungguhnya barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, maka Allah membaca shalawat untuknya sepuluh kali. Setelah itu, mintalah untukku al-Wasilah, karena ia adalah salah satu tempat di surga. Ia tidak diperuntukkan kecuali bagi salah seorang dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap aku adalah orang yang dimaksud. Barangsiapa memintakan al-Wasilah bagiku, maka ia berhak atas syafa’atku.” (Riwayat Muslim, Ahmad, dan an-Nasa’i)

Imam Ahmad berkata, telah berkata kepada kami Abdurrazzaq yang berkata, telah berkata kepada kami Sufyan dari Laits dari Ka’ab dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika kalian usai shalat, maka mintalah kepada Allah al-Wasilah untukku.’ Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Rasulullah, apakah al-Wasilah itu?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Al-Wasilah adalah tempat tertinggi dalam surga. Ia hanya bisa dicapai oleh satu orang saja dan aku berharap bahwa aku adalah orang yang dimaksud.” (Riwayat Ahmad, menurutnya hadits ini shahih).

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, hadits dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu ‘anhuma berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa berdoa setelah mendengar adzan, ‘Ya Allah, pemilik doa yang sempurna ini dan shalawat yang didirikan, berilah kepada Muhammad al-Wasilah, keutamaan dan derajat tinggi. Dan tempatkan ia ke tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.’ Maka ia berhak mendapatkan syafa’atku pada Hari Kiamat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam Musnad disebutkan hadits dari Imarah bin Ghaziyah dari Musa bin Wardan dari Abu Sa’id al-Khudri Radliyallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Al-Wasilah adalah tingkatan di sisi Allah dan tidak ada tingkatan lagi di atasnya. Maka mintalah kepada Allah agar al-Wasilah tersebut menjadi milikku.” (Riwayat Ahmad)

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abid-Dunya dan di dalamnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Al-Wasilah adalah tingkatan dalam surga dan di dalam surga tidak ada tingkatan yang lebih tinggi daripadanya. Maka mintalah keapda Allah agar Ia memberikannya kepada di hadapan seluruh makhluk.”

Tingkatan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dinamakan al-Wasilah, karena ia adalah tingkatan yang paling dekat dengan Arasy ar-Rahmaan dan ia merupakan tingkatan yang paling dekat dengan Allah. Al-Kalbi berkata, “Mintalah kepada Allah kedekatan dengan amal perbuatan yang shalih!” Allah ta’alaa memberitahukan makna ini dengan firman-Nya,

“orang-ornag yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah).” (Al-Isra: 57)

Ini adalah interpretasi dari al-Wasilah yang dicari oleh orang-orang yang diseru orang-orang yang menyekutukan Allah, kemudian mereka berlomba siapa di antara mereka yang paling dekat kepada Allah. Lantara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk yang paling agung ibadahnya kepada Allah dan paling mengerti tentang Allah, yang paling takut kepada-Nya dan paling besar cintanya kepada Allah, maka sudah sewajarnya jika tempatnya adalah tempat yang paling dekat dengan Allah dan ia adalah tingkatan surga yang paling tinggi. Beliau memerintahkan umatnya memintakan baginya agar dengan doa ini mereka mendapatkan kedekatan dengan Allah dan tambahan iman.
Juga sesungguhnya Allah telah menentukan al-Wasilah bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebab-sebab antara lain, doa umatnya untuknya karena dengan pernataraan beliau mereka mendapatkan keimanan dan petunjuk. Shalawat dan salam kepada beliau.


Sumber: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. “Hadil Arwaah ila Bilaadil Afraah” atau “Tamasya ke Surga“. Terj. Fadhil Bahri, Lc. Bekasi: Darul Falah. 2015.