Menanti Adzab, BNPT Sebut Mengajarkan Anak Mengaji dan Sholat Adalah Radikalisasi

Tags

(Ambiguistis) - BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) adalah lembaga yang baik dari segi nama. Segala bentuk terorisme harus ditumpas karena tidak sesuai dengan azaz keberagamaan dan azaz kenegaraan. Namun sayangnya, dalam praktik penanggulangan terorisme selama ini cukup meresahkan. Lagi-lagi Islam menjadi kambing hitam untuk aksi terorisme yang terjadi.


Dalam sebuah seminar yang diadakan di UIn Syarif Hidayatullah pada Kamis (11/6), Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris kembali menjadikan Islam sebagai contoh cikal bakal terorisme. 

Acara bertajuk “Radikalisme Agama dalam Perspektif Global dan Nasional,” tersebut merupakan upaya menasionalkan gerakan anti terorisme. Sangat baik untuk digalakkan namun dalam sebuah kesempatan diskusi, Irfan menyatakan bahwa radikalisasi adalah upaya untuk memberikan pemahaman secara komprehensif. 

Radikalisasi, lanjut Irfan, adalah bagian dari upaya mengajarkan agama. Misalnya, mengajarkan anak-anak mengaji dan salat.

Namun, Irfan juga kembali menyebut dan menyandingkan istilah radikal dan radikal terorisme. Keduanya, menurut Irfan adalah sesuatu yang tidak benar.

“Karena menjadikan ideologi, agama sebagai hegemoni,” imbuhnya dikutip Kiblat.net.

Istilah radikalisme sempat menjadi bahan perbincangan setelah dijadikan alasan dalam tindakan pemblokiran sejumlah situs Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bulan April lalu. Atas rekomendasi BNPT, pemblokiran dilakukan dengan menuding bahwa situs-situs tersebut menyebarkan paham radikal.

Namun, BNPT tak dapat menjelaskan definisi dari radikalisme saat ditanyai lebih jauh oleh para pengelola situs. Selain itu lembaga penanggulangan terorisme Indonesia itu juga tak mampu menunjukkan bagian situs yang dianggap berisi paham radikal.