Tanda Kiamat, Es di Kutub Meleleh dan Beruang Terancam Punah

(Ambiguistis) - Perubahan iklim yang semakin tidak menentu membuat es di kutub mencair lebih cepat dari sebelumnya. Mencairnya es di kutub akan mengakibatkan banyak sekali bencana. Permukaan air yang meluap dan para binatang yang tinggal di sana terancam. Tanda-tanda kiamat adalah salah satunya tidak ditumbuhkannya tanam-tanaman tatkala Dajjal menjelang muncul. Kondisi ini diperparah dengan punahnya hewan-hewan pemakan tumbuhan dan kemudian hewan-hewan pemakan daging yang kehabisan pasokan makanan.

“Perubahan iklim terus mengancam kelangsungan hidup beruang kutub di masa depan," kata Inger Andersen, Dirjen IUCN, tentang penelitian tersebut, yang berdasarkan pada penghitungan dan proyeksi laut es baru sejak kajian terakhir pada tahun 2008.


Laporan tersebut menyebutkan kemungkinan besar "populasi global beruang kutub menurun hingga lebih dari 30 persen selama 35 hinga 40 tahun mendatang." Laporan itu juga membenarkan penemuan-penemuan pada laporan tahun 2008 tersebut.

Andersen mendesak hampir 200 negara, yang bertemu pada konferensi PBB tentang perubahan iklim di Paris dari 30 November - 11 Desember, untuk membatasi emisi gas rumah kaca untuk memperlambat cairnya es. IUCN beranggotakan ilmuwan, pemerintah dan ahli lainnya.

Jumlah beruang kutub meningkat di beberapa bagian selama beberapa tahun terakhir akibat perlindungan yang lebih baik dan adanya larangan perburuan beruang kutub, tapi perkiraan populasi keseluruhan dari beberapa tahun lalu tidak jelas.

Berkurangnya laut es, yang pada bulan September 2012 berada pada kondisi terburuk sejak pencatatan satelit dilakukan, akan semakin menyulitkan beruang kutub menangkap anjing laut yang hidup di es, menurut laporan tersebut.

IUCN mengatakan organisasinya menemukan ada 23.250 spesies dari 79.837 spesies yang dipelajari, berada dalam daftar hewan dan tumbuhan yang masuk dalam kategori terancam punah. Beruang kutub tercatat "rentan punah," kategori yang belum terlalu buruk. Kategori terburuk adalah "punah."

Source: Voa Indonesia
Editor: Ambiguistis