Kuasa Ilahi, Masjid Qiblatain dengan 2 Arah Kiblat

Tags

(Ambiguistis) - Umat Islam di masa Rasulullah Muhammad shollallaahu 'alayhi wa sallam pernah melaksanakan sholat dengan mengahadap ke Baitul Maqdis atau Al Quds, di Palestina. Sebuah masjid di Madinah menjadi saksi bisu perpindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis di Palestina ke Masjidil Haram di Mekah ketika Rasulullah shollallaahu 'alayhi wa sallam melaksanakan sholat Zhuhur pada bulan Rajab tahun 2 Hijriah. Masjid yang dikenal memiliki dua arah kiblat ini bernama Masjid Qiblatain. 

Berikut adalah ulasan tim Media Center Haji (MCH) seperti yang dilansir dari laman resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, www.kemenag.go.id Masjid Qiblatain terletak tepat di atas sebuah bukit kecil di Quba, sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah, Masjid Qiblatain semula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah. 

Masjid ini terletak sekitar 7 kilometer dari Masjib Nabawi di Madinah. Salah seorang pengurus masjid tersebut, Ibrahim Ahmad (50) ketika ditemui tim MCH menceriterakan tentang asal-usul masjid Qiblatain ini. 

Diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad shollallaahu 'alayhi wa sallam beserta sahabat ke rumah Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya. Peristiwa itu terjadi pada bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, saat Rasulullah shollallaahu 'alayhi wa sallam sholat Zhuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama sholat Zhuhur masih menghadap Baitul Maqdis di Palestina, sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu turun ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rekaat kedua. 

Allah Subhaanahu wa ta'ala berfirman dalam Al Qur’an, 

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allah dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (terjemah QS. Al-Baqarah: 144). 

Begitu menerima wahyu ini, Rasulullah shollallaahu 'alayhi wa sallam langsung berpindah arah kiblat 180 derajat. Kemudian diikuti oleh semua jamaah melanjutkan sholat Zhuhur menghadap ke Masjidil Haram dengan tetap melanjutkan rokaat kedua bersama makmum. 

Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, di Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Mulai saat itu, Masjid Bani Salamah dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat. 

Ibrahim Ahmad melanjutkan ceritanya, pada awalnya, kiblat shalat untuk semua nabi adalah Baitullah di Mekah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS, seperti yang tercantum dalam Al Quran Surah Ali Imran ayat 96: 

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Mekah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” Sedangkan Al Quds (Baitul Maqdis) ditetapkan sebagai kiblat untuk sebagian dari para nabi dari bangsa Israel. Al Quds berada disebelah Utara. Adapun Baitullah di Mekah disebelah Selatan sehingga keduanya saling berhadapan. Kini bangunan Masjid Qiblatain memang memiliki dua arah mihrab yang menonjol (arah Makkah dan Palestina) yang umumnya digunakan oleh Imam shalat. Setelah direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, dengan hanya memfokuskan satu mihrab yang menghadap Ka’bah di Makkah dan meminimalisir mihrab yang menghadap ke Yerusalem, Palestina. Ruang mihrab mengadopsi geometri ortogonal kaku dan simetri yang ditekankan dengan menggunakan menara kembar dan kubah kembar. Kubah utama yang menunjukkan arah Kiblat yang benar dan kubah kedua adalah palsu dan dijadikan sebagai pengingat sejarah saja. Ada garis silang kecil yang menunjukkan transisi perpindahan arah. Di bawahnya terdapat replika mihrab tua yang menyerupai ruang bawah kubah batu di Yerusalem, bernuansa tradisional.

Sources: Muslimdaily.net, Archnet.org
Editor: Khothob


EmoticonEmoticon