Selama Ini Website Paling Hoax Salah Satunya Seword.com, Tapi Tak Pernah Tersentuh Hukum

(Ambiguistis) - Siswanto Rawali, Ketua Bidang Komintel Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah melaporkan situs Seword.com ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dengan harapan agar situs tersebut segera diblokir.


“Agenda kita ke Kominfo yaitu melaporkan agar situs Seword.com segera diblokir. Alasannya situs tersebut kami nilai sebagai salah satu produsen hoax selama ini,” ungkap Siswanto melalui rilis yang diterima Kiblat.net, Kamis (12/10/2017).

Tuduhan tersebut diungkapkan Siswanto lantaran memiliki bukti postingan tulisan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya. Bahkan, postingan situs tersebut dinilai bersifat tendensius, menyebar kebencian dan memancing provokasi bernuansa SARA.

“Maka sebagai bentuk tanggung jawab moril kebangsaan maka kami PP Pemuda Muhammadiyah melaporkan Seword.com ke pihak yang berwenang untuk diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap Siswanto.

Selain melaporkan Seword.com ke Kominfo, Pemuda Muhammadiyah juga melaporkan situs tersebut ke jajaran Cyber Crime Bareskrim Polri. Siswanto mengungkapkan, ada dua objek laporan, yaitu pemilik situs Seword.com dan penulis opini yang terbukti bermuatan tendensius, ujaran kebencian dan mengandung provokasi SARA.

“Kita tidak ingin jagad informasi komunikasi kita dipenuhi dengan sampah, noise, hoax dan ujaran kebencian lainnya yang dipicu oleh opini provokatif di media dan internet,” terang Siswanto.

Ia melanjutkan, selama ini situs Seword.com diduga menjadi media yang memfasilitasi opini hoax, provokatif, ujaran kebencian dan sebagainya.

“Pelaporan ini kami maksudkan terutama sebagai pembelajaran bagi kita sebagai negara yang beradab yang berdasarkan hukum agar setiap orang memiliki tanggung jawab atas ujarannya di media,” ungkapnya.

Terakhir, ia berharap semoga setiap masyarakat memiliki kesadaran untuk menciptakan keharmonisan berbangsa dan bernegara.

“Semoga aparat pemerintah dalam hal ini Kominfo dan Kepolisian memiliki persepsi yang sama dengan kita Pemuda Muhammadiyah. Sehingga proaktif menindaklanjuti laporan kita,” tukasnya. (Ambi/Kiblat)

Sholat Shubuh Harus Seperti Sholat Jum’at, Baru Islam Jaya - Ustadz Khalid Basalamah

(Ambiguistis) - Kejayaan Islam akan bisa diulang kembali dengan syarat, umat Islam harus kembali kepada hukum Allah. Jika umat Islam masih jauh dari hukum Allah maka akan sulit untuk bangkit. Salah satu cirinya adalah dengan indikator sholat shubuh. Ketika sholat shubuh berjama'ah di masjid sudah seperti sholat jum'at maka itulah satu tanda kejayaan Islam.

Ada Berapa Golongan Orang yang Berhak Mendapatkan Zakat?

(Ambiguistis) - Orang-Orang yang Berhak Mendapatkan Zakat

1. Fakir

Fakir adalah orang yang penghasilannya belum dapat menutupi separuh dari kebutuhannya.

Ukuran orang fakir miskin di Indonesia adalah orang yang pendapatannya tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya, atau orang yang pendapatannya di bawah standar yang telah ditentukan oleh pemerintah. Seperti ketidakmampuan keluarga tersebut untuk makan minimal dua kali sehari, atau menempuh pendidikan sembilan tahun, atau mendapatkan pelayanan kesehatan standar dan tak mampu membeli pakaian layak.


Ada juga yang menentukan kriteria orang miskin di desa dengan ciri-ciri sebagai berikut: Dalam sehari makan kurang dari 3 kali, penghasilan tidak tetap, tidak mempunyai sawah atau tegalan, hidup di rumah sederhana dari bilik bambu ukuran 6 x 4 meter persegi dan berlantai tanah. Termasuk para jompo, manula, dan para janda yang ditinggal mati suaminya.

2. Miskin

Miskin adalah orang yang penghasilannya baru bisa memenuhi separuh atau lebih dari kebutuhannya, tetapi belum bisa terpenuhi semuanya.

Zakat tidak boleh dibayarkan kepada orang yang menjadi tanggungannya, karena hal tersebut akan menyebabkan gugurnya kewajiban memberi nafkah kepadanya. Contoh :

Seorang suami tidak boleh memberikan zakatnya kepada istri dan anak-anaknya yang masih dalam tanggungannya.

Seorang anak tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang tua yang menjadi tanggungannya.

Seorang kerabat tidak boleh memberikan zakat kepada kerabat yang menjadi tanggungannya.

Sebaliknya, dibolehkan memberikan zakat kepada orang yang bukan di bawah tanggungannya. Contoh:

Seorang istri boleh memberikan zakatnya kepada suaminya yang miskin.

Seorang anak boleh memberikan zakat kepada orang tuanya yang miskin tapi hidupnya mandiri dan tidak dalam tanggungan anaknya.

3. Amil Zakat

Amil Zakat adalah orang yang mendapatkan tugas dari negara, organisasi, lembaga atau yayasan untuk mengurusi zakat. Atas kerjanya tersebut, seorang amil zakat berhak mendapatkan jatah dari uang zakat.

Amil Zakat yang berhak mendapatkan zakat adalah, yang memang profesi utamanya adalah mengurusi zakat. Jika dia memiliki pekerjaan lain, pekerjaannya tersebut dia anggap sebagai pekerjaan sampingan, yang tidak boleh mengalahkan pekerjaan utamanya, yaitu amil zakat.

Amil zakat ini harus diangkat secara resmi oleh negara, organisasi, lembaga, yayasan. Tidak boleh sembarang bekerja secara serabutan dan tanpa pengawasan. Dasar pengangkatan amil zakat ini adalah hadits Abu Humaid as-Sa’idi:

Dari Abu Humaid as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu berkata: Nabi shallallahu a’laihi wasallam memperkerjakan seorang laki-laki dari suku al-Azdi yang bernama Ibnu Lutbiah sebagai pemungut zakat. Ketika datang dari tugasnya, dia berkata: "Ini untuk kalian sebagai zakat dan ini dihadiahkan untukku". Beliau bersabda: "Cobalah dia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, dan menunggu apakah akan ada yang memberikan kepadanya hadiah? Dan demi Dzat yag jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun yang mengambil sesuatu dari zakat ini, kecuali dia akan datang pada hari qiyamat dengan dipikulkan di atas lehernya berupa unta yang berteriak, atau sapi yang melembuh atau kambing yang mengembik". Kemudian beliau mengangkat tangan-nya, sehingga terlihat oleh kami ketiak beliau yang putih dan (berkata,): "Ya Allah bukan kah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan", sebanyak tiga kali.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Muallaf

Muallaf adalah singkatan dari istilah “al-Muallaf Qulubuhum“ sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an dalam surat at-Taubah, ayat : 60. Yang artinya adalah orang-orang yang hati mereka dilunakkan agar masuk Islam, atau agar keimanan mereka meningkat, atau untuk menghindari kejahatan mereka.

Pembagian Muallaf

Dari pengertian di atas, Muallaf yang berhak mendapatkan zakat terbagi menjadi tiga:

Pertama: Orang-orang kafir yang hati mereka sudah cenderung kepada Islam, atau diharapkan agar mereka masuk Islam, karena dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam, diprediksi Islam akan menjadi lebih kuat.

Kedua: orang-orang kafir yang diharapkan agar menghentikan kejahatan mereka kepada kaum muslimin.

Ketiga: orang-orang Islam yang lemah imannya karena baru mengenal Islam, atau supaya mereka tidak keluar lagi memeluk agama lain.

5. Fi ar- Riqab

Fi ar-Riqab adalah budak belian. Maksud pemberian zakat kepada mereka bukanlah kita memberikan uang kepada mereka, tetapi maksudnya adalah memerdekakan mereka.

Yang termasuk dalam golongan Fi ar-Riqab adalah:

Pertama: Al-Mukatib, yaitu seorang budak yang ingin membebaskan dirinya dari tuannya, dengan cara membayar sejumlah uang kepada tuannya secara berangsur. Maka, zakat untuknya adalah dengan cara membantunya membayarkan kepada tuannya sejumlah uang agar dia bebas dari perbudakan, baik diberikan langsung kepada tuannya atau diberikan kepada budak tersebut, untuk kemudian diserahkan kepada tuannya.

Jika budak tersebut tidak mempergunakan uang tersebut sebagaimana mestinya, maka uang itu berhak untuk diambil lagi.

Kedua: Membebaskan budak secara langsung dengan uang zakat tersebut, walaupun dia bukan mukatib.

Ketiga : Seorang muslim yang menjadi tawanan perang orang kafir, boleh membayar tebusan dengan uang zakat agar dia terbebas dari tawanan.

6. Al-Gharimun

Al-Gharim adalah orang-orang yang dililit utang, sehingga dia tidak bisa membayarnya.

Al-Gharim ada dua macam:

Pertama: orang yang dililit utang karena mendamaikan dua pihak yang sedang berselisih. Orang seperti ini berhak mendapatkan zakat, walaupun dia sebenarnya orang kaya. Dalilnya adalah hadist Qabishah bin Muhariq al-Hilali bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Wahai Qabishah meminta-minta itu tidak boleh, kecuali bagi tiga orang, (diantaranya) adalah seseorang yang menanggung beban orang lain, maka dibolehkan dia meminta-minta sehingga menutupi utangnya, kemudian dia berhenti dari meminta-minta “ (HR. Muslim)

Kedua: Orang yang dililit hutang untuk keperluan dirinya sendiri, seperti untuk nafkah keluarga, berobat, membeli sesuatu, atau yang lainnya.

Adapun orang kaya yang berutang untuk keperluan bisnis, maka ini tidak termasuk dalam katagori al-Gharim, sehingga tidak berhak mendapatkan zakat.

7. Fi Sabilillah

Yang dimaksud fi sabilillah adalah perang di jalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi.

Fi sabilillah ini meliputi para mujahidin yang berperang melawan orang-orang kafir, pembelian alat – alat perang, dan sarana-sarana lain untuk keperluan jihad di jalan Allah.

Para mujahid berhak mendapatkan zakat, walaupun mereka sebenarnya kaya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa orang-orang yang waktunya tersita untuk belajar ilmu agama, termasuk para santri di pesantren-pesantren sehingga tidak sempat untuk bekerja, mereka termasuk fi sabilillah, karena ilmunya akan bermanfaat bagi kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘laihi wassalam bersabda:

"Barang siapa yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah hingga pulang." (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi)

8. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil adalah seorang musafir yang kehabisan bekal di tengah perjalanan, sehingga dia tidak bisa melanjutkan perjalanan atau kembali ke kampung halamannya. Orang seperti ini, walaupun dia kaya di kampung halamannya, berhak untuk mendapatkan zakat sekedarnya sesuai dengan kebutuhannya sehingga dia sampai tujuan. (Ambi/Ahmadzain.com

Tak Usah Pedulikan Hater, yang Penting Poligami Sesuai Syariat, Inilah 7 Tips Poligami Harmonis Ustadz Arifin Ilham

(Ambiguistis) - Pimpinan Majelis Az Zikra Ustaz Muhammad Arifin Ilham menyayangkan ada sebagian umat Islam yang menolak poligami, padahal itu perintah Allah dan sunnah Rasulullah Saw. Ia mengingatkan, jangan sampai ketidaksukaan terhadap poligami menjadi penolakan terhadap hukum Allah.


"Tidak akan masuk syurga orang yang menolak hukum Allah, walaupun hanya satu ayat," tegas Ustaz Arifin saat halaqah shubuh di masjid Az Zikra, Sentul Bogor, Ahad (3/8/2014).

Ia mengaku, keputusannya berpoligami semata-mata karena Allah, ia tidak peduli dengan orang-orang yang menolaknya.

"Arifin tidak peduli, mau dicibir, dihina, yang penting ini dilakukan karena Allah," ujarnya.

Ia pun menyayangkan sikap media sekuler yang selama ini mempromosikan aktvitas zina dan sebaliknya menghantam poligami.

"Mereka mengusung ide liberal (kebebasan), mereka itu kejam, selalu memutarbalikkan fakta, jahat sekali mereka. Semua cara mereka pakai untuk menjatuhkan orang-orang yang hidupnya cinta dengan syariah," kata Ustaz Arifin.

Namun menurutnya, untuk berpoligami tidaklah mudah, ada sejumlah langkah yang harus ditempuh agar poligami berujung dengan baik.

"Jika sudah mampu lahir batin, ada 7 langkah agar poligami bahagia. Pertama ijin kepada Allah Swt lewat istikhoroh, ijin kepada orang tua, ijin dan minta nasihat kepada para ulama, lalu ijin kepada istri, ijin ke mertua, ijin juga kepada anak-anak, dan terakhir ijin pada negara maksudnya terdaftar di Kantor Urusan Agama (KUA). Itulah yang saya lakukan dan itu bertahun-tahun prosesnya. Apakah tanpa semua itu bisa? bisa dan sah, tapi tidak bahagia," terang Ustaz Arifin.

Selain itu, ia juga selalu mengadakan pengajian rutin dirumah bersama kedua istrinya untuk menambah ilmu agama serta untuk menjaga komunikasi dengan baik dalam rumah tangganya.

Terkait ijin negara, Ustadz yang selalu terlihat harmonis dengan kedua "bidadarinya" ini menjelaskan, bahwa itu sebagai langkah adil untuk kedua istrinya. "Istri pertama dengan surat nikah, istri kedua juga harus pakai dong," ujarnya.

Ia bercerita bagaimana pentingnya surat nikah. Kisah seorang istri kedua yang dinikah siri tanpa sepengetahuan, kemudian ia menuntut harta warisan kepada istri pertama saat sang suami meninggal yang akhirnya menimbulkan fitnah, bahkan si istri pertama menolaknya sampai memakai pengacara. Karena istri keduanya tidak punya surat nikah, tidak bisa dibuktikan, akhirnya terbengkalai si istri kedua dan anaknya. Tidak hanya itu, surat nikah juga penting untuk catatan administrasi seperti pembuatan akta kelahiran dan lain-lain. (Ambi/Suara-islam.com)

Ikhwan dan Akhwat Saling Berbalas Komentar dengan Lawan Jenis Tanpa Keperluan Syar'i, Bagaimana Sikap Kita?

(Ambiguistis) - Perkembangan teknologi tentu sangat menunjang seseorang untuk lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Namun bagai dua bilah mata pedang, keberadaan twitter ataupun facebook tidak hanya membawa dampak positif , melainkan juga dapat menimbulkan dampak negatif, tak terkecuali bagi kelangsungan kehidupan berumah tangga.


Ibarat senjata, fungsi media sosial adalah bergantung pada siapa penggunanya. Oleh karenanya, sebagai seorang Muslimah, Istri, dan juga Ibu bagi anak-anak kita, sudah selayaknya kita gunakan media sosial untuk hal-hal yang benar-benar penting dan bermanfaat. Jauh lebih baik jika media sosial dapat digunakan sebagai sarana amar makruf nahi munkar.

Namun tak dapat dipungkiri, setan kadang pandai menemukan celahnya. Jika tidak super hati-hati, kita bisa jadi menganggap biasa berbagai tindakan di media sosial, walaupun sebenarnya hal itu adalah jalan menuju keburukan dan mudharat yang besar, khususnya bagi para Muslimah.

Lalu, apa saja tindakan yang harus kita hindari dalam beraktivitas di media sosial?

Berikut hal-hal yang sebaiknya pantang dilakukan Muslimah, terlebih yang sudah menikah agar tidak terjerumus pada akibat yang penuh kemudharatan bagi kelangsungan rumah tangga:

Terlalu Sering Online

Tidak masalah, jika online-nya kita di media sosial adalah untuk hal-hal yang positif. Menyampaikan pesan-pesan dakwah, misalnya. Atau meng-update barang dagangan jika profesi kita memang seorang pedagang online. Namun hati-hati, jika bisa lupa makan dan minum hanya demi berhubungan dengan teman-teman melalui chatting online atau membalas mention-mention di Twitter, Instagram atau Path, tentunya tidak ada manfaat lebih yang bisa diperoleh. Yang ada justru pekerjaan terbengkalai, anak terabaikan, suami pun bisa uring-uringan.

Saling Berbalas Komentar dengan Lawan Jenis

Jika seringkali berkomentar ataupun mengomentari status lawan jenis yang tidak lain adalah teman pada akun jejaring sosial, maka waspadalah dan jangan ragu untuk sejenak memuhasabah diri. Sebab tanpa disadari, hal demikian sudah merupakan langkah awal untuk menjalin kedekatan dan komunikasi yang akrab dengan lawan jenis tersebut.

Sekali lagi, hati-hati, pepatah Jawa bilang, “Witing Tresno Jalaran Seko Kulino”, rasa cinta tumbuh akibat terbiasa. Terbiasa apa? Terbiasa berkomunikasi yang tidak terlalu penting, terbiasa berbalas komentar di facebook, dan terbiasa-terbiasa lain yang kita anggap biasa tapi jika kebablasan bisa menjadi jalan kehancuran. Na’udzubillahi min dzalik.

Menutup-nutupi Password

Jika memang suami tidak menanyakan, dalam artian woles saja terkait password kita, tak jadi masalah tidak diberitahu apa password kita. Tapi jika memang suami bertanya, tak ada salahnya password akun media sosial kita berikan. Secara tidak langsung, hal itu akan membantu kita untuk lebih menjaga diri dalam berinteraksi di media sosial.
Tapi jika kita kekeuh menutup-nutupi padahal suami menanyakannya, hati-hati, kita patut waspada dan introspeksi penuh pada diri sendiri. Ada apa sebenarnya di akun-akun media sosial kita?

Menyembunyikan Gadget Bila di Dekat Suami

Sikap tersebut pastinya bisa menjadi tanda bahwa kita telah menyembunyikan sesuatu. Bisa jadi menyembunyikan percakapan yang terjadi melalui pesan singkat atau message yang ada di Path, Facebook atau Twitter. Atau bisa juga hal-hal lain yang kita tak ingin suami tahu.

Jika memang tak ada ‘apa-apa’, tak perlulah gadget kita jauhkan dari jangkauan suami. Suami tak akan curiga, kita pun tidak akan direpotkan oleh kesibukan menyembunyikan gadget setiap saat.

Semoga Allah Swt menjadikan kita bagian dari orang-orang yang senantiasa menjaga diri. Dan jangan lupa, hal-hal di atas tak hanya berlaku bagi para istri saja, tapi juga bagi para suami. (Ambiguistis/Haifa HR/Suara Islam)

Istri Kurang Cantik, Bolehkah Nikah Lagi?

(Ambiguistis) - Penampilan terkadang dijadikan prioritas utama dalam memilih pasangan hidup. Padahal Rasulullah Saw telah memberi perintah untuk memilih pasangan tidak hanya indah dari segi fisik.

"Wanita biasanya dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya, maka hendaklah kamu memilih wanita yang bagus agamanya. Kalau tidak demikian maka kamu akan merugi" ( HR. Bukhari Muslim)


Meski demikian, ada beberapa hadits yang menyatakan bolehnya memilih calon pendamping dari penampilannya karena akan menentramkan hati dan memicu keharmonisan rumah tangga. Namun perlu diketahui, bahwa paras tak menjamin perilaku. Boleh jadi ia berparas cantik, akan tetapi jika hanya berparas cantik tanpa disertai iman dan ketaatan akan lebih berpotensi untuk bersikap angkuh.

Hal ini yang perlu menjadi perhatian para suami, jika memiliki istri cantik berpotensi memiliki resiko tingkat kecemburuan lebih tinggi dibandingkan dengan para lelaki yang memiliki pasangan hidup yang berparas tidak terlalu cantik tapi memiliki akhlak yang baik.

Dalam kitab Kullu Musykilati Zujiyyah wa laha Hal disebutkan sebuah kisah, seorang lelaki menanyakan tentang apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mengatasi keinginannya berpoligami lantaran setelah beberapa tahun pernikahan ia baru menyadari bahwa istrinya tidak cantik sedangkan ia tidak memiliki cukup kemampuan untuk menikah lagi. Hingga terkadang ia bermuka masam terhadap istri tanpa sebab. Pernah juga ia berpikir untuk menceraikannya dengan cara baik, namun urung dilakukan disebabkan dari istrinya tersebut mereka dikarunia anak dan sang istri sangat mencintainya.

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih al Munjib menjawab dengan beberapa jawaban berikut ini,

  • Pertama, permasalah sebenarnya yang dialami si penanya bukanlah pada rencana untuk menikah lagi atau menceraikan istri, akan tetapi terkait kemampuan materi! Jika memang belum mampu untuk menikah lagi maka pertahankan istri anda hingga Alloh Subhanahu wa ta'ala menganugerahkan pada anda istri yang lain.
  • Kedua, jika suatu saat anda memiliki kemampuan untuk menikah lagi, maka Alhamdulillah, karena menurut sudut pandangku, itu lebih baik dari pada harus menceraikan istri anda, terlebih saat ini anda telah dikarunia anak-anak.
  • Ketiga, coba lihat masalah dari sudut pandang berbeda, boleh jadi anda akan mendapatkan banyak hal positif. Penampilan bukanlah segalanya, kejujuran dan akhlak yang baiklah yang nantinya akan menjadi tolok ukur seiring dengan berjalannya waktu.
  • Keempat, bayangkan jika anda menikahi seorang wanita yang sangat cantik, kemudian dia mulai bersikap buruk kepada anda, keluarga anda, dan rumah anda, apa yang akan anda lakukan ?
  • Kelima, Objektiflah dalam cara pandang anda dan jangan anda bebani diri anda dengan sesuatu yang tidak mampu. Renungkanlah urusan-urusan ini dari aspek-aspek berbeda

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman,

"(Maka Bersabarlah) kerena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak" (Qs. An Nisa : 19)

Dan ingat pula pesan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam "Pilihlah wanita yang beragama, nsicaya kamu akan beruntung"

Cantik itu relatif, bahkan seiring berjalannya waktu kecantikan tersebut lambat laun akan berubah, timbul keriput dan noda-noda hitam hingga menjadi tua. Bukankah hati anda akan semakin gelisah dikarenakan anda harus betul-betul menjaga kecantikan perhiasan berharga anda dari berbagai fitnah?

Renungkanlah wahai para suami, anugerah yang Allah Subhanahu wa ta'ala titipkan pada setiap wanita tidak hanya kecantikan, melainkan kemuliaan akhlak dan ketaatan. Jangan anda cintai kecantikannya, tapi cintailah istri anda dengan tulus dan hanya mengharap ridho Allah Subhanahu wa ta'ala, maka anda akan merasa istri anda adalah wanita tercantik yang dianugerahkan kepada anda. (Ambi/Maria Firdaus/SI)

Jawaban Santun Ustadz Arifin Ilham Kepada Para Hater Poligami

(Ambiguistis) - Praktik ibadah poligami yang dilakukan KH Muhammad Arifin Ilham mengundang berbagai reaksi dari sejumlah kalangan. Banyak yang mendukung namun ada juga yang menyayangkan. Sikap penolakan tersebut salah satunya Ustaz Arifin dianggap pamer dengan memperlihatkan istri ketiganya.

Menanggapi hal tersebut, berikut jawaban Pimpinan Majelis Zikir Az Zikra itu melalui pesannya yang diterima Suara Islam Online, Senin (9/10/2017):


Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah sahabat sholehku, sungguh Islam mengajarkan umatnya supaya pernikahan itu dipublikasikan.

Rasulullah saw bersabda, “A’linuu haadzan-nikaaha waj-‘aluuhu fi’l-masaajidi wadh-ribuu ‘alaihid-dufuufa (umumkanlah pernikahan, selenggarakanlah di masjid dan bunyikanlah tetabuhan)” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Kumandangkanlah pernikahan dan rahasiakanlah peminangan” (HR Ummu Salamah ra).

Sebaliknya sembunyi sembunyi bukan hanya jauh dari sunnah apalagi syiar, malah justru menimbulkan mudhorot besar dan banyak fitnahnya.

Padahal dia berjalan dg istrinya difitnah berzina. Jelas salah yg memfitnah tetapi juga salah yg tidak mengumumkan pernikahannya karena membuka peluang fitnah.

Da'wah terbaik bukan hanya memberi contoh tetapi menjadi contoh nyata.

Rasulullah menggendong sayyidah Aisyah saat menyaksikan perlombaan kuda, mengangkat sayyidah Shofiyyah naik onta dan banyak lagi kisah indah Rasulullah.

Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam : “Beliau orang yang suka bercanda dg istrinya” (HR Bukhari)

Jelas ini tontonan terindah bagi para sahabat yg menyaksikan ini, tetapi menjadi TUNTUNAN da'wah dan uswah hasanah terindah bersikap terbaik kepada keluarga dihadapan umat. Tontonan pun berubah menjadi tuntunan mulia.

Apalagi da'wah di era media sosial benar benar tantangan besar bukan lagi "katanya atau kisahnya saja, mana buktinya?!"

Karena itulah dibutuhkan bukti contoh nyata bahwa SYARIAT ALLAH itu memang sangat MEMBAHAGIAKAN bagi hamba hamba yg beriman kepada Nya dan RasulNya.

Jangan bermesraan bercumbu rayu dipublikasikan, jelas ini sangat memalukan, tetapi kebahagiaan, kebersamaan dan pendidikan yg menjadi contoh kebaikan hidup berumah tangga.

Khusus untuk poligami hanya bagi yg mampu dg SYARAT SYARAT yg sangat berat, terutama kesiapan istri pertama dan keluarga, kalau tidak siap dan tidak mampu melakukannya, malah berakibat hancurnya bahtera rumah tangga, "untuk apa poligami kalau hanya berakhir dg hancurnya rumah tangga", maka bersabarlah dan berbahagialah dg CUKUP SATU ISTRI SAJA!

Any way, kalau hati itu bersih krn keindahan imannya, maka ia memandang apapun dg bersih pula, penuh dg kebaikan, kesantunan bahasa dan kemuliaan bersikap, tetapi sebaliknya kalau hati itu kotor, maka ia memandang apapun dg buruk sangka, bahasa kedengkian dan penuh hujatan kebencian.

Pepatah arab mengatakan, "Kalau hati sudah ridho disebut namanya saja sudah senyum senang, tetapi kalau hati sudah benci melihat gantungan bajunya saja sudah manyun ingin membuangnya".

Allahumma ya Allah maafkanlah sahabat hamba yg memfitnah hamba, maafkan sahabat hamba yg menghujat hamba, hamba yg difitnah dan dihujat ikhlas rela memaafkannya karena cinta sayang hamba pada mereka dan umat nabi Muhammad SAW karena Engkau...aamiin.

Semoga Allah selalu berkahi persahabatan dan harakah da'wah kita...aamiin.
(Ambiguistis.net/Suara-islam.com)

Terlanjur Hamil Duluan Karena Pacaran Kebablasan Lalu Menikah, Dosanya Belum Terhapus?

(Ambiguistis) - Dosa zina tidak bisa hilang hanya dengan menikah. Jangan sampai Anda punya anggapan bahwa dengan menikah berarti pelaku zina telah mendapatkan ampunan. Dosa zina bisa hilang dengan taubat yang sungguh-sungguh. Seseorang akan tetap dianggap sebagai PEZINA selama dia belum bertaubat dari dosa zina.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التائب من الذنب كمن لا ذنب له

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa.” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi, dan dishahihkan Al-Albani)

Untuk bisa disebut sebagai orang yang telah bertaubat, dia harus membuktikan bentuk penyesalannya dalam kehidupannya, di antaranya:

  1. Dia merasa sangat sedih dengan perbuatannya.
  2. Meninggalkan semua perbuatan yang menjadi pemicu zina, seperti melihat gambar atau film porno.
  3. Meninggalkan komunitas dan teman yang menggiring seseorang untuk kembali berzina. Seperti pergaulan bebas, teman yang tidak menjaga adab bergaul, suka menampakkan aurat, dst..
  4. Berusaha mencari komunitas yang baik, yang menjaga diri, dan hati-hati dalam pergaulan.
  5. Berusaha membekali diri dengan ilmu syar’i. Karena inilah yang akan membimbing manusia menuju jalan kebenaran.
  6. Berusaha meningkatkan amal ibadah, sebagai modal untuk terus bersabar dalam menahan diri dari maksiat.
Source: Konsultasisyariah.com

Menikahi Wanita yang Masih Hamil Karena Zina, Sah Atau Tidak?

(Ambiguistis) - Pak ustadz, saya mau bertanya. Apabila ada seorang wanita dan pria menikah, akan tetapi dalam kondisi wanita tersebut dalam keadaan hamil, setelah anaknya lahir apakah pasangan tersebut wajib menikah lagi???

Kalau "wajib", bagaimana cara kita menyampaikan kepada pasangan tersebut agar mau menikah lagi, agar mereka merasa tidak tersinggung???

Soalna selama ini kan yang mereka tau, kalau sudah pernah menikah, itu sudah sah.

Terima kasih sebelumnya pak ustadz


Jawaban:


Menikahi wanita yang sedang dalam keadaan hamil hukumnya ada dua. Yang pertama, hukumnya haram. Yang kedua, hukumnya boleh.

Yang hukumnya haram adalah apabila yang menikahi bukan orang yang menghamili. Wanita itu dihamili oleh A, sedangkan yang menikahinya B. Hukumnya haram sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dia menuangkan air (maninya) padatanaman orang lain. (HR Abu Daud)

Yang dimaksud dengan tanaman orang lain maksudnya haram melakukan persetubuhan dengan wanita yang sudah dihamili orang lain. Baik hamilnya karena zina atau pun karena hubungan suami isteri yang sah. Pendeknya, bila seorang wanita sedang hamil, maka haram untuk disetubuhi oleh laki-laki lain, kecuali laki-laki yang menyetubuhinya.

Dari dalil di atas kita mendapatkan hukum yang kedua, yaitu yang hukumnya boleh. Yaitu wanita hamil karena zina dinikahi oleh pasangan zina yang menghamilinya. Hukumnya boleh dan tidak dilarang.

Maka seorang laki-laki menikahi pasangan zinanya yang terlanjur hamil dibolehkan, asalkan yang menyetubuhinya (mengawininya) adalah benar-benardirinya sebagai laki-lakiyang menghamilinya, bukan orang lain.

Perbedaan Pendapat TentangKebolehan Menikahinya


Memang ada sebagian pendapat yang mengharamkan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri dengan berdalil kepada ayat Al-Quran Al-Kariem berikut ini:

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu’min. (QS. An-Nur: 3)

Namun kalau kita teliti, rupanya yang mengharamkan hanya sebagian kecil saja. Selebihnya, mayoritas para ulama membolehkan.

1. Pendapat Jumhur (mayoritas) ulama


Jumhurul fuqaha’ (mayoritas ahli fiqih) mengatakan bahwa yang dipahami dari ayat tersebut bukanlah mengharamkan untuk menikahi wanita yang pernah berzina. Bahkan mereka membolehkan menikahi wanita yang pezina sekalipun. Lalu bagaimana dengan lafaz ayat yang zahirnya mengharamkan itu?

Para fuqaha memiliki tiga alasan dalam hal ini.


  1. Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz ‘hurrima‘ atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).
  2. Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan.
  3. Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu:

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui.(QS. An-Nur: 32).

Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut:


Dari Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda, "Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal." (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Dan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, "Isteriku ini seorang yang suka berzina." Beliau menjawab, "Ceraikan dia!." "Tapi aku takut memberatkan diriku." "Kalau begitu mut’ahilah dia." (HR Abu Daud dan An-Nasa’i)

Selain itu juga ada hadits berikut ini

Dimasa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra, "Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), "Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik’. Lalu Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya." (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, "Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri."

2. Pendapat Yang Mengharamkan


Sebagian kecil ulama ada yang berpendapat untuk mengharamkan tindakan menikahi wanita yang pernah dizinainya sendiri. Paling tidak tercatat ada Aisyah, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra’ dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhum ajmain.

Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).

Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang isteri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami. Tentu saja dalil mereka adalah zahir ayat yang kami sebutkan di atas (aN-Nur: 3).

Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila isterinya serong dan tetap menjadikannya sebagai isteri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts." (HR Abu Daud)

Di antara tokoh di zaman sekarang yang ikut mengharamkan adalah Syeikh Al-Utsaimin rahmahullah.

3. Pendapat Pertengahan


Sedangkan pendapat yang pertengahan adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau mengharamkan seseorang menikah dengan wanita yang masih suka berzina dan belum bertaubat. Kalaupun mereka menikah, maka nikahnya tidak syah.

Namun bila wanita itu sudah berhenti dari dosanya dan bertaubat, maka tidak ada larangan untuk menikahinya. Dan bila mereka menikah, maka nikahnya syah secara syar’i.

Nampaknya pendapat ini agak menengah dan sesuai dengan asas prikemanusiaan. Karena seseorang yang sudah bertaubat berhak untuk bisa hidup normal dan mendapatkan pasangan yang baik.

Lalu, karena penegakan syariah dan hukum hudud hanya bisa dilakukan oleh ulil amri (pemerintah) maka hukum rajam, cambuk, dan yang lain belum bisa dilakukan. Sebagai gantinya, tobat dari zina bisa dengan penyesalan, meninggalkan perbuatan tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulangi.

Dan hukum pernikahan di antara mereka sudah sah, asalkan telah terpenuhi syarat dan rukunnya. Harus ada ijab qabul yang dilakukan oleh suami dengan ayah kandung si wanita disertai keberadaan 2 orang saksi laki-laki yang akil, baligh, merdeka, dan ‘adil.

Tidak Perlu Diulang


Kalau kita mengunakan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan pernikahan mereka sah, maka karena akad nikah mereka sudah sah, sebenarnya tidak ada lagi keharusan untuk mengulangi akad nikah setelah bayinya lahir. Karena pada hakikatnya pernikahan mereka sudah sah. Tidak perlu lagi ada pernikahan ulang.

Buat apa diulang kalau pernikahan mereka sudah sah. Dan sejak mereka menikah, tentunya mereka telah melakukan hubungan suami isteri secara sah. Hukumnya bukan zina.

Status Anak


Adapun masalah status anak, menurut sebagian ulama, jika anak ini lahir 6 bulan setelah akad nikah, maka si anak secara otomatis sah dinasabkan pada ayahnya tanpa harus ada ikrar tersendiri.

Namun jika si jabang bayi lahir sebelum bulan keenam setelah pernikahan, maka ayahnya dipandang perlu untuk melakukan ikrar, yaitu menyatakan secara tegas bahwa si anak memang benar-benar dari darah dagingnya. Itu saja bedanya.

Bila seorang wanita yang pernah berzina itu akan menikah dengan orang lain, harus dilakukan proses istibra‘, yaitu menunggu kepastian apakah ada janin dalam perutnya atau tidak. Masa istibra’ itu menurut para ulama adalah 6 bulan. Bila dalam masa 6 bulan itu memang bisa dipastikan tidak ada janin, baru boleh dia menikah dengan orang lain.

Sedangkan bila menikah dengan laki-laki yang menzinahinya, tidak perlu dilakukan istibra’ karena kalaupun ada janin dalam perutnya, sudah bisa dipastikan bahwa janin itu anak dari orang yang menzinahinya yang kini sudah resmi menjadi suami ibunya.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Oleh Ustadz Ahmad Sarwat, Lc dalam eramuslim.com dengan beberapa perbaikan penulisan oleh Mas Ambi.

Saatnya Umat Islam Bangun, Kita Ini Pemimpin Dunia - Ustadz Khalid Basalamah

(Ambiguistis) - Saatnya umat Islam bangun dari tidur panjangnya. Sudah cukup dininabobokan oleh sistem kufur. Kembali kepada syari'at Islam dengan rujukan Al Quran dan Sunnah. Sejarah membuktikan bahwa umat Islam telah lama berhasil menjadi pemimpin dunia. Oleh karenanya, kini masanya umat Islam sadar untuk kembali menjemput kemenangan itu.

Simak dalam video berikut ini: